
Jejamo.com, Bandar Lampung – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung menduga longsornnya Bukit Onta di Jalan Harimau 4, Kelurahan Sukamenanti akibat aktivitas penambang batu yang beroperasi di lokasi tersebut.
Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Irfan Tri Musri mengatakan, Bukit Onta yang memiliki nama resmi Gunung Perahu pada Rabu (30/10/2019) kemarin itu longsor bukan karena terjadi secara alami. Melainkan ada campur tangan manusia.
“Berdasarkan hasil pantauan Walhi Lampung, ditemukan bahwa lokasi longsor berada di lokasi penambangan batu, yang terlihat jelas adanya perubahan bentang alam dan bentuk atau kontur tanah pada bukit akibat aktivitas pengerukan lereng gunung atau bukit dengan alat berat yang membuat tanah mudah longsor,” kata Irfan.
Irfan menambahkan, satu hari berselang bahkan terlihat ada aktivitas beberapa truk yang sedang melakukan aktitivas pemuatan material longsoran bukit yang dimuat ke dalam truk-truk tersebut.
Meskipun tidak ada korban jiwa akibat longsor, hal ini harus dijadikan sebagai peringatan keras kepada pemerintah kota Bandar Lampung untuk segera sadar bahwa kondisi gunung dan bukit di Bandar Lampung sudah sangat kritis dengan adanya alih fungsi lahan yang seharusnya sebagai daerah tangkapan air dan ruang terbuka hijau.
“Namun saat ini hampir seluruh bukit di Kota Bandar Lampung telah beralih fungsi menjadi perumahan, tempat wisata dan lokasi pertambangan. Apalagi mendekati musim hujan yang dikwatirkan kejadian serupa akan akan terulang kembali dan kemungkinan bahkan lebih parah karna sudah tidak adanya daerah tangkapan air,” kata Irfan.
yang apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi akan terjadinya erosi yang berlebihan bahkan longsor dan banjir akibat air mengalir dengan deras dari gunung/bukit akibat hilangnya daerah tangkapan air tentu ini sangat membahayakan masyarakat sekitar gunung/bukit yang ada di kota bandar lampung. []
