Makan Bergizi atau Malapetaka? Saat Program Mulia Berubah Menjadi Momok Nasional

0
1276

Oleh : Abid Bisara

Di atas meja belajar mereka, bukan lagi buku dan pena yang menjadi pusat perhatian, melainkan sebuah kotak makan. Seharusnya ia berisi harapan: asupan nutrisi untuk mengasah pikiran, janji pemerintah untuk masa depan generasi penerus bangsa.

Namun, kotak itu kini dibuka dengan rasa was-was, dengan doa diam-diam dari para orang tua: “Jangan sampai hari ini anakku pulang dengan perut keram, atau bahkan dalam ambulans.”

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto, dengan anggaran yang hampir menyentuh 10 persen belanja negara, sejatinya adalah mimpi indah. Sebuah mimpi tentang anak-anak Indonesia yang tumbuh kuat dan cerdas, terbebas dari belenggu stunting. Ini adalah cita-cita yang mulia, warisan dari era SBY dengan program susu dan buburnya, yang kini hendak diwujudkan dalam skala lebih masif.

Namun, di lapangan, mimpi indah itu berubah menjadi drama tragis yang berulang. MBG tidak lagi dilihat sebagai berkat, melainkan momok baru yang menakutkan. Alih-alih menjadi solusi, program ini menjadi ladang masalah nasional yang memakan korban.

Bayangkan suasana di sebuah sekolah dasar di Lampung. Suasana ceria saat istirahat, anak-anak dengan polosnya menyantap hidangan yang diberikan. Beberapa jam kemudian, tangis dan rintihan menggantikan tawa. Puluhan, bahkan ratusan tangan mungil memegangi perut yang melilit. Korban berjatuhan: 247 siswa di Bandar Lampung, puluhan di Kotabumi, 25 santri di pesantren Lampung Timur, dan puluhan lagi di Tanggamus dan Kota Metro. Mereka adalah korban dari sebuah program yang seharusnya menyelamatkan mereka.

Tubuh-tubuh kecil itu menjadi saksi bisu dari sebuah sistem yang tampaknya gagal menjalankan amanahnya. Siapa yang harus disalahkan? Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai penanggung jawab pusat? Pemerintah daerah sebagai koordinator? Atau yayasan dan relawan yang mengelola dapur MBG di tingkat paling bawah? Yang jelas, rantai tanggung jawab itu terputus di suatu titik, dan yang menjadi tumbal adalah nyawa dan kesehatan anak-anak kita.

Narasi mulia tentang pemenuhan gizi kini dikepung oleh tanda tanya besar: apakah ini hanya menjadi ladang korupsi baru? Sebuah proyek raksasa dengan dana triliunan rupiah yang ujung-ujungnya hanya mengorbankan jutaan pelajar di Nusantara? Ketakutan orang tua sangat masuk perse

Banyak yang meminta program ini “di-rupiah-kan” saja. Serahkan tanggung jawab itu kepada ibu yang pasti akan memilihkan yang terbaik untuk buah hatinya, bukan kepada mekanisme tender yang rumit dan rentan disalahgunakan.

Setiap kasus keracunan bukan hanya sekadar statistik. Itu adalah cerita tentang seorang anak yang mungkin trauma untuk makan di sekolah, tentang orang tua yang hilang kepercayaan kepada negara, dan tentang cita-cita membangun generasi emas yang tercoreng.

MBG harusnya menjadi program kebanggaan, bukan program yang ditakuti. Negara hadir untuk melindungi, bukan untuk membawa malapetaka. Saatnya evaluasi total. Tidak ada lagi kompromi untuk keselamatan anak-anak.

Jika tidak bisa dijamin keamanannya, lebih baik program ini dihentikan daripada terus menjadi bencana berulang yang menyakitkan. Jangan biarkan niat baik membunuh masa depan yang ingin kita selamatkan.