
Jejamo.com, Bandar Lampung – Di tengah pandemi corona, Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Apik Mandiri menyalurkan 30 paket parsel berisi perlengkapan kebutuhan sehari-hari lansia di Kota Bandar Lampung pada Sabtu (11/4).
Kepala Operasional LKS Apik Mandiri Yeni Harnita Harun mengatakan bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Sosial Republik Indonesia dan BRSLU Budhi Darma Bekasi dengan nilai Rp2,7 juta per lansia dengan 4 komponen yakni bantuan bertujuan lanjut usia, perawatan sosial, terapi dan dukungan keluarga.
Untuk bingkisan merupakan komponen yang pertama yaitu bantuan bertujuan lanjut usia senilai Rp1,5 juta sedangkan komponen lainnya diimplementasikan pada tahap selanjutnya.
Dalam implementasinya juga menggandeng ACT Lampung dengan memberikan edukasi cara menggunakan masker dan hand sanitizer ketika keluar rumah. Pihak ACT Lampung juga membagikan hand sanitizer kepada para lansia.
Yeni menambahkan bantuan tersebut merupakan tanda cinta dan bentuk empati kepada lansia pada saat perekonomian anak cucunya sedang tidak stabil akibat pandemi corona.
Penyaluran menyasar lansia di Kelurahan Kangkung Kecamatan Bumi Waras, Kelurahan Pidada Kecamatan Panjang, Kelurahan Panjang Selatan Kecamatan Panjang, Kelurahan Panjang Utara Kecamatan Panjang, Kelurahan Kotakarang Raya Kecamatan Telukbetung Timur dan Kelurahan Susunan Baru Kecamatan Tanjungkarang Barat. Lansia tersebut sudah terdaftar di sistem ID DTKS
“Alhamdulillah paket bantuan sudah diterima lansia penerima manfaat, tangis haru mendapatkan barang-barang kebutuhan sehari-hari, mereka sampai bingung mau megang saking gede parselnya,” ucapnya.
Esdarmanto mewakili Mak Irah (80) warga RT 03 Lingkungan I Kelurahan Pidada Panjang menceritakan masa muda orangtuanya yang giat berdagang bunga maupun sayuran di Pasar Panjang.
Sejak 6 tahun lalu orang tuanya sudah berhenti menjajakan dagangan karena tak bisa jalan lagi. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari hanya mengandalkan penghasilan darinya.
Terang Esdarmanto, sebagai buruh panggul di Pelabuhan Panjang penghasilan yang didapat tidak menentu. Ketika banyak muatan maka ada rupiah yang bisa dibawa pulang.
Diiringi suara klakson kereta api dari stasiun di bawah bukit, Esdarmanto hanya bisa menatap garis biru laut dari halaman rumahnya.
“Saya hanya punya sepetak tanah ini, kami tinggal berlima, Istri lagi buruh gosok baju di tempat saudaranya. Lumayan untuk tambah-tambah ngurus Mak Irah,” tutupnya. [Hermawan Wahyu Saputra]
