Jejamo.com, NTT – Dunia militer Indonesia diguncang tragedi memilukan. Prada Lucky Chepril Saputra Namo (19), prajurit TNI AD yang baru dua bulan mengabdi, ditemukan tewas dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Diduga kuat, ia menjadi korban penganiayaan senior di kesatuannya.
Amarah Sang Ayah lantang “Bubarkan Negara Jika Tak Ada Keadilan!” Serma Christian Namo, ayah korban, tak kuasa menahan gejolak emosi. Dalam sejumlah video viral, ia berteriak lantang
“Bubarkan negara! Nyawa dibayar nyawa, Merah putih bakar saja, Saya tidak takut mati demi kebenaran!” Tegasnya lantang.
Pernyataan kontroversial itu meluncur dari hati seorang ayah yang kehilangan anak semata wayang. “Mereka bunuh anak saya seperti binatang. Saya mau hukum mati para pelaku!” tandasnya dengan mata berkaca-kaca.
Korban yakni Prada Lucky, merupakan anggota Yonif Raider 408/SBH, tewas 24 jam setelah melapor sakit usai latihan. Temuan Medis, Tubuh penuh memar, diduga akibat pemukulan dan tendoran.
Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto telah memerintahkan penyelidikan intensif. 20 Prajurit Diperiksa, empat orang kini diamankan di Sub Denpom Ende sebagai tersangka.
Militer Berjanji Transparansi Tapi Keluarga Tak Percaya. Meski Pangdam menjamin proses hukum profesional dan transparan, keluarga korban tetap saja skeptis.
“Anak saya dikirim hidup-hidup, pulang dalam peti. Di mana pengawasan komandan?” tanya Serma Christian.
Keluarga menuntut hukuman maksimal bagi pelaku dan evaluasi sistem pembinaan prajurit muda.
Mengapa korban baru dibawa ke RS setelah kondisinya kritis? Apa peran komandan kesatuan dalam pengawasan junior-senior? Akankah TNI membuka hasil penyelidikan ke publik?
Tuntutan Keluarga pada pelaku Hukuman mati bagi pelaku. Audit internal sistem pembinaan prajurit baru. Permintaan maaf resmi dari institusi TNI. Tim kesehatan TNI dilaporkan sedang memeriksa rekam medis korban dan saksi. Hasil visum diperkirakan keluar 3 hari lagi.(*)
