Krisis Air Bandar Lampung, Samsul Bakri: Resapan Air Dataran Tinggi Lebih Efektif Ketimbang Simpan Air Musim Kemarau

0
24
Samsul Bakri. | Marisa Tri Junita
Samsul Bakri. | Marisa Tri Junita

Jejamo.com, Bandar Lampung – Peresapan air di dataran tinggi lebih efektif daripada menyimpan air pada musim kemarau. Ini disampaikan Kepala Program Studi Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Lampung Samsul Bakri kepada jejamo.com, Kamis, 4/7/2019.

Samsul Bakri memaparkan kondisi iklim empat tahun terakhir. Ia menilai terjadi pergeseran perubahan iklim musim kemarau dan musim hujan.

Musim kemarau idealnya terjadi bulan April-Oktober. Pergeseran ini terjadi karena pemanasan global.

Ia menjelaskan, ada dua cara dalam menghadapi musim kemarau bagi masyarakat petani.

“Adaptasi yang utama. Jika suka menanam tanaman yang suka air, harus bergeser ke tanaman yang tidak butuh air. Yang kedua mitigasi, contohnya dengan membuat embung kedap air,” jelasnya.

Ia mengatakan, warga Bandar Lampung mayoritas bukan petani. Sebab itu, pemerintah perlu memfasilitasi jasa peresapan air.

Lahan daratan tinggi harus dijadikan hutan untuk mengendapkan air hujan, lalu dialirkan sesuai area daerah aliran sungai atau DAS.

“Untuk mengonservasi itu perlu jasa lingkungan,” kata dia.

Dia menambahkan tidak perlu khawatir dengan musim kemarau jika mampu mengolah sumber daya air. Air sungai pun dapat dimanfaatkan.

“Mudah saja kalau soal memurnikan air sungai, teknologinya sudah ada, ” tambahnya.

Dia menuturkan, peran pemerintah adalah mengatur sumber daya air ini. Kemudian memfasilitasi jasa peresapan air dan memungut pajak bagi masyarakat hilir terutama industri.

“Karena air adalah barang publik,” imbuhnya. [Marisa Tri Junita]