Banjir Bandang Ganas Porak-Porandakan Suoh, Puluhan Rumah Hanyut Tertelan Arus!

0
305

LAMPUNG BARAT – Bencana dahsyat menyapu pemukiman warga di Pekon Banding Agung, Kecamatan Suoh, Lampung Barat, Rabu (10/9/2025). Banjir bandang yang melanda sekitar pukul 15.30 WIB dengan kekuatan mencekam, menghancurkan dan menghanyutkan puluhan rumah warga seketika.

Arus air yang bergemuruh dan penuh lumpur datang tiba-tiba, menyapu segala yang dilintasinya. Warga yang sedang beraktivitas hanya bisa menyelamatkan diri, tanpa sempat menyelamatkan harta benda mereka. Suara jeritan dan kepanikan memecah kesunyian desa yang kini berubah menjadi lautan lumpur.

Camat Suoh, Dapet Jakson, membenarkan betapa ganasnya amukan alam ini. “Kondisi sangat mengkhawatirkan. Arus masih deras, banjir masih berlangsung, dan kami masih terus melakukan pendataan korban dan kerusakan,” katanya dengan suara berat. Ia mengaku timnya kesulitan menjangkau lokasi karena akses yang terputus dan arus yang masih sangat berbahaya.

Tidak hanya rumah warga yang hancur lebur, fasilitas umum seperti jembatan, jalan, dan saluran air juga dikhawatirkan mengalami kerusakan parah. Kekhawatiran terbesar adalah masih adanya potensi banjir susulan mengingat cuaca yang masih tidak menentu dan debit air yang terus mengalir deras dari hulu.

Hingga berita ini diturunkan, puluhan keluarga masih terisolasi dan belum bisa dievakuasi akibat akses jalan yang putus total. Tim SAR dan relawan masih berusaha menembus lokasi dengan peralatan seadanya, sambil berharap cuaca segera membaik.

Banjir bandang ini kembali memperingatkan betapa rentannya daerah ini terhadap bencana alam, sementara sistem peringatan dini dan infrastruktur penanggulangan bencana masih sangat minim. Warga yang selamat kini harus berhadapan dengan trauma dan kehilangan harta benda yang nyaris tak tersisa.

Pemerintah setempat didesak untuk segera bertindak cepat: evakuasi korban, pendataan yang akurat, dan penanganan pascabencana yang serius. Bantuan logistik seperti makanan, obat-obatan, dan tenda sangat dibutuhkan segera.

Namun yang paling mencekam adalah ketidakpastian: berapa banyak lagi rumah yang akan hanyut? Dan apakah masih ada korban jiwa yang belum ditemukan?

Lampu pilu mulai menyala di pengungsian darurat, sementara Suoh masih gelap, basah, dan dipenuhi rintihan warga yang kehilangan segalanya dalam sekejap.(*)