Cerita Wanita Berbulu yang Akhirnya Berhenti Mencukur Setelah 26 Tahun

0
54
***STRICT ONLINE EMBARGO UNTIL 00.01AM GMT THURSDAY 9TH JUNE 2016*** *** EXCLUSIVE - VIDEO AVAILABLE *** SPRINGFIELD, ORE - January 03: Jennifer Rose Geil selects outfit to wear from her closet on January 3, 2015 in Springfield, Oregon. A woman with excess facial hair has ditched her razors and grown a full beard ñ and claims sheís never felt sexier. Rose Geil, 39, first noticed her excess hair when she was just 13 and started shaving immediately. The devastated teenager, from Oregon, America, quickly realised she would have to shave every day to keep the stubble at bay. But after years of shaving, plucking and expensive laser removal procedures, Rose has now decided to accept her whiskers ñ and couldnít be happier. PHOTOGRAPH BY Michael Sullivan / Barcroft Images London-T:+44 207 033 1031 E:hello@barcroftmedia.com - New York-T:+1 212 796 2458 E:hello@barcroftusa.com - New Delhi-T:+91 11 4053 2429 E:hello@barcroftindia.com www.barcroftimages.com
Rose Geil yang berusia 39 tahun akhirnya memutuskan untuk berhenti mencukur kumis, jenggot dan jambangnya setelah 26 tahun. Ia mengaku sudah dapat menerima kondisinya sebagai wanita yang berbulu layaknya seorang pria. | Metro.co.uk

Jejamo.com – Rose Geil yang berusia 39 tahun akhirnya memutuskan untuk berhenti mencukur kumis, jenggot dan jambangnya setelah 26 tahun.  Meski demikian, ia malah merasa semakin seksi dan feminin dengan penampilan barunya tersebut. Muka wanita itu mulai ditumbuhi bulu seperti pria ketika berusia 13 tahun.

“Kini dengan membiarkan jenggot, kumis dan jambang di muka membuat saya lebih yakin. Saya merasa lebih cantik dengan jambang, saya merasa hebat,” ujar Rose Geil, seperti dikutip oleh Huffington Post.

Menurut Geil, dia menyadari keberadaan bulu di pipinya. Bulu itu lantas tumbuh di dagu serta atas bibir. Dia harus bangun awal setiap pagi untuk mencukurnya. Setelah beberapa lama, keganjilan itu mulai disadari ibunya karena Geil lupa mencukur.

Namun keluarganya hanya diam dan tidak memberikan dukungan yang seharusnya. Meskipun tidak dilakukan penelitian selengkapnya, Rose Geil percaya masalah itu lantaran kombinasi sindrom Polycystic ovary dan pengaruh genetika.

Selama usia remaja, Geil memakai baju lengan panjang dan baju sampai ke leher untuk menutupi bulu di lengan dan dada. Bagi pria yang ingin menjadi pacarnya, Geil harus menunjukkan bulu badannya, sesuatu yang menurutnya sulit dan memalukan.

Namun dia bersyukur karena ada teman pria yang memahami ketika berusia awal 20-an. Delapan bulan lalu, Geil lalu memutuskan membuang pisau cukur selama-lamanya dan bersyukur karena keluarga dan teman-temannya sangat membantu.

“Orang yang melihat saya akan memandang dua kali namun saya tidak yakin apakah itu pandangan positif atau netral. Ada yang datang menemui saya, berjabat tangan mengucapkan ‘selamat’ karena saya berani serta tabah,” kata Rose Geil.

Akun pribadi Instagram Rose Geil sudah menarik ratusan pengikut dengan pesan-pesan bernada ajakan melamarnya untuk menikah. Ada pula yang menawarkan tiket untuk dirinya agar datang ke tempat mereka, namun ada juga komenter bernada cemoohan serta ejekan.(*)

Tempo.co