Jejamo.com, Tanggamus – Sebuah video yang menggegerkan warga net viral di media sosial. Seorang bocah SD diduga mengalami keracunan usai menyantap hidangan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Dasar Negeri 1 Way Jaha, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus.
Postingan yang diunggah oleh akun Facebook @Mell itu telah ditonton ribuan kali dan dibagikan lebih dari 500 kali. Dalam unggahan tersebut disebutkan, 30 siswa-siswi SDN 1 Way Jaha mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program pemerintah itu.
Postingan ini langsung memicu perdebatan sengit di kolom komentar. Sebagian warganet menyalahkan kebersihan makanan.
“Mungkin yang masak jorok, sayuran gak dicuci. Jaman sekarang sayuran kan pakai pestisida,” tulis **@Nadia Novera.
Namun, ada juga yang membantah dan mengklaim berita tersebut dibesar-besarkan.
“Saya ada di tempat. Itu bukan 30 siswa, tapi 13 orang. 9 pusing mual, 4 muntah. Tapi bukan keracunan. Siang harinya anak-anak sudah pulih. Jangan buat berita hoax!” tegas @Gween Indra, yang mengaku memiliki bukti percakapan dengan guru di sekolah tersebut.
Tak hanya soal keracunan, banyak netizen yang justru mempertanyakan kelanjutan program MBG. Sebagian khawatir ini akan jadi celah korupsi baru.
“Program makan gratis cuma jadi ladang korupsi. Nanti sengaja dicari-cari masalah biar dana dialihkan,” komentar @Indra Sumardi.
Sebelumnya, sempat beredar kabar, bahwa keracunan diduga akibat ikan lele yang dimasak tidak matang. Namun, anehnya, berita tersebut tiba-tiba menghilang dan tidak bisa diakses lagi.
Dalam video berdurasi 1,49 detik yang beredar, terlihat seorang ibu mengaku anaknya mual setelah makan menu MBG yang terdiri dari sayur, tempe, ikan lele, dan buah salak.
“Saya harap pemerintah lebih mengawasi program ini. Jangan sampai ada korban lagi,” keluhnya.
Kejadian ini memantik pertanyaan, Benarkah ada kelalaian dalam penyajian makanan bergizi untuk anak sekolah? Atau justru ada drama berlebihan di balik insiden ini?
Masyarakat menunggu klarifikasi resmi dari pihak sekolah dan dinas terkait. Sementara itu, viralnya kasus ini menunjukkan betapa rapuhnya kepercayaan publik terhadap program bantuan pemerintah.(*)
