Oleh: Pasha Al Nadzri Anandha Zaldi
Mahasiswa tahun pertama program sarjana (BA Hons) International Relations and Politics, Liverpool John Moores University.
Abstrak
Esai ini mengkaji pengaruh slacktivism dalam praktik aktivisme politik kontemporer. Dengan menelaah perubahan ruang publik akibat perkembangan internet dan media sosial, tulisan ini menimbang secara kritis apakah slacktivism sekadar bentuk partisipasi politik yang dangkal atau justru dapat berkontribusi terhadap perubahan sosial di dunia nyata.
Pengaruh Internet terhadap Ruang Publik
Ruang publik, sebagaimana didefinisikan oleh Jürgen Habermas, merupakan ranah yang bebas, adil, dan dapat diakses oleh masyarakat untuk membentuk opini publik. Pada masanya, ruang publik ini didominasi oleh media massa tradisional seperti radio, televisi, dan surat kabar. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, ruang publik mengalami transformasi radikal seiring dengan kemunculan dan perkembangan internet.
Perubahan ini melahirkan ruang publik global yang melampaui batas geografis dan menyatukan masyarakat dunia dalam satu jaringan komunikasi. Internet dan teknologi komunikasi nirkabel tidak hanya menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi juga alat organisasi, diskusi, debat, serta pengambilan keputusan kolektif berskala global. Dengan demikian, ruang publik kontemporer semakin bergantung pada sistem komunikasi media dan jaringan internet.
Pengaruh Internet terhadap Aktivisme dan Organisasi Gerakan Sosial
Ledakan penggunaan internet telah melahirkan bentuk baru jurnalisme warga dan membuka jalur baru mobilisasi massa. Internet memungkinkan individu maupun kelompok untuk mengorganisasi aksi, menggalang dukungan, dan menarik perhatian global terhadap isu-isu tertentu. Aktivisme digital ini didukung oleh teknologi seperti ponsel pintar dan platform media sosial—Instagram, Facebook, X (sebelumnya Twitter), YouTube, dan TikTok—yang memungkinkan distribusi informasi secara cepat dan lintas negara.
Kondisi ini menurunkan hambatan bagi warga biasa, termasuk kelompok yang terpinggirkan, untuk menyuarakan isu politik, ekonomi, dan budaya mereka kepada audiens global. Pesan aktivisme kini dapat disampaikan secara langsung kepada publik tanpa melalui filter media tradisional, sehingga mengurangi risiko distorsi pesan.
Kebangkitan Slacktivism
Perubahan radikal dalam cara produksi dan distribusi media aktivisme juga mengubah cara publik berinteraksi dengan gerakan sosial. Istilah slacktivism sering digunakan untuk menggambarkan bentuk partisipasi politik daring yang dinilai minim usaha, risiko, dan pengorbanan. Meski sebagian pihak berpendapat bahwa slacktivism bukanlah fenomena baru—melainkan versi digital dari “aktivisme kursi malas” di masa lalu—penggunaan kontemporernya merujuk pada tindakan politik daring yang dianggap kurang efektif dalam mendorong perubahan nyata.
Di era digital, media aktivisme dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat. Namun, kemudahan ini memunculkan persoalan terkait tingkat komitmen individu. Ketika sebuah gerakan melibatkan jumlah partisipan yang sangat besar, tekanan sosial terhadap individu cenderung menurun. Akibatnya, partisipan sering kali menginvestasikan lebih sedikit waktu, perhatian, dan pengorbanan. Penurunan tekanan sosial ini kerap berujung pada lemahnya dampak kolektif gerakan tersebut.
Selain itu, produksi konten aktivisme yang masif juga menimbulkan persoalan kualitas dan kuantitas informasi. Limpahan pesan dapat membingungkan audiens, mengaburkan pesan inti, serta menciptakan kelelahan informasi yang justru menjauhkan publik dari gerakan itu sendiri.
Bahaya terbesar dari fenomena ini adalah munculnya ilusi partisipasi. Paparan terhadap aktivisme digital dapat menanamkan anggapan bahwa menyukai unggahan, membagikan meme politik, atau menggunakan tagar sudah cukup untuk menciptakan perubahan. Akibatnya, bentuk-bentuk aktivisme tradisional—seperti demonstrasi, aksi mogok, atau mobilisasi langsung—dianggap usang, membosankan, bahkan berbahaya, meskipun secara historis terbukti efektif dalam mendorong perubahan kebijakan.
Argumen yang Mendukung Slacktivism
Meski sering dikritik, slacktivism tidak dapat serta-merta dianggap sebagai praktik yang sia-sia. Respons daring dalam skala besar dapat meningkatkan visibilitas isu dalam diskursus publik global. Peningkatan kesadaran publik ini berpotensi menjadi langkah awal menuju aksi nyata.
Garis pemisah antara slacktivism dan aktivisme konvensional juga tidak selalu tegas. Seseorang dapat terlibat dalam aksi protes di dunia nyata sekaligus melakukan siaran langsung atau kampanye daring untuk memperluas jangkauan pesan. Dalam beberapa kasus, keterlibatan daring justru mendorong individu untuk terlibat lebih dalam pada aksi nyata di kemudian hari.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang pernah terlibat dalam slacktivism cenderung lebih mungkin berpartisipasi dalam aksi politik nyata dibandingkan mereka yang sama sekali tidak terlibat dalam aktivitas politik apa pun.
Psikologi Slacktivism
Partisipasi politik melalui internet memiliki potensi untuk mendorong keterlibatan lanjutan di dunia nyata, meskipun hal ini tidak selalu terjadi. Dalam sejumlah kasus, individu yang telah menunjukkan dukungan daring—misalnya dengan menyukai atau membagikan konten—justru merasa telah “cukup berkontribusi” dan kemudian enggan mengambil langkah lebih jauh.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep moral balancing, yaitu kecenderungan individu menyeimbangkan keputusan moral masa depan dengan tindakan moral yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah terlibat dalam slacktivism, seseorang mungkin merasa memiliki “lisensi moral” untuk mengurangi usaha dan risiko dalam aksi lanjutan.
Namun, pandangan lain menyatakan bahwa slacktivism justru dapat memicu disonansi kognitif. Individu memiliki dorongan internal untuk menjaga konsistensi antara sikap, keyakinan, dan perilaku. Ketika seseorang telah menyatakan dukungan politik secara daring, ia cenderung terdorong untuk mempertahankan sikap tersebut melalui tindakan nyata, bahkan ketika risikonya lebih besar. Penelitian menunjukkan bahwa partisipasi politik daring berbiaya rendah dapat menjadi pintu masuk menuju aksi politik dunia nyata yang berbiaya dan berisiko lebih tinggi.
Kesimpulan
Perkembangan teknologi komunikasi nirkabel dan media sosial telah mentransformasi cara manusia berkomunikasi sekaligus cara mereka berpartisipasi dalam aksi politik. Media sosial memungkinkan isu apa pun—sekecil atau sebesar apa pun—menarik perhatian global dalam waktu singkat dan menggalang dukungan massal.
Namun, besarnya jumlah pendukung daring sering kali menyulitkan penilaian atas kualitas kontribusi individu. Sebagian orang terdorong untuk melangkah lebih jauh dalam mendukung sebuah gerakan, sementara yang lain merasa cukup dengan dukungan simbolik secara daring.
Meskipun sulit menentukan secara pasti apakah slacktivism lebih banyak mendorong atau justru menghambat perubahan politik di dunia nyata, satu hal yang jelas: ruang digital telah membuat publikasi isu dan mobilisasi dukungan menjadi jauh lebih mudah dan inklusif. Dalam konteks ini, slacktivism bukan sekadar fenomena dangkal, melainkan bagian dari spektrum baru partisipasi politik di era digital.
